"It’s Very Nice": Menjaga Karang dan Tradisi di Laut Mekko
Sebuah Catatan Wisata Edukasi Bersama Anak-Anak Pesisir Flores Timur
Penulis : Founder English Class Mekko
Area Rehabilitasi Terumbu Karang Mekko
Suasana malam 12 September 2026 pukul 19.00 WITA di pesisir Flores Timur dihangatkan oleh sebuah pesan singkat di layar ponsel Founder English Class Mekko.
"Hi Bro… I’m Guido," tulis wisatawan asal Belanda itu. "I got your contact number form Edo Solor. Tomorrow I plan to Mekko explore some small island there then snorkling or diving in coral sanctuary."
Pertemuan pun disepakati singkat untuk esok hari pukul 11.00 WITA. Pagi itu menjadi awal dari petualangan berbasis edukasi yang meninggalkan kesan mendalam bagi sang pelancong mancanegara.
Foto 1: Panorama lanskap perairan jernih Kepulauan Mekko di Flores Timur dengan bentangan laut biru di bawah terik matahari pagi.
Foto 2: Restorasi Terumbu Karang / Snorkeling.
Foto underwater seseorang sedang snorkeling memantau terumbu karang muda, atau foto anak-anak pesisir saat melakukan penanaman karang).
Guido datang bukan sekadar untuk menikmati panorama bahari. Ia membawa rasa penasaran yang besar terhadap aksi nyata anak-anak pesisir setempat. Di bawah permukaan laut Mekko pada Spot 1 Restorasi Terumbu Karang, ia menyaksikan langsung deretan karang yang telah ditanam dan dirawat oleh anak-anak English Class Mekko sejak Februari 2026.
Melihat dari dekat hasil pemantauan dan perawatan karang oleh tangan-tangan mungil tersebut, Guido tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.
"It’s very nice," ungkap Guido penuh sukacita usai menyebur dan menikmati keindahan restorasi karang di sana.
Foto 3: Eksplorasi Kepulauan & Kekayaan Adat.
Perahu perahu kecil melintasi perairan di antara empat kepulauan Mekko, dengan pemandu lokal sedang bercerita.
Petualangan berlanjut dengan mengelilingi empat pulau kecil dalam gugusan Kepulauan Mekko. Di atas perahu yang melaju di atas gelombang tenang, narasi lokal mulai terkuak. Founder English Class Mekko menceritakan asal-usul tanah dan perairan yang mereka lintasi—wilayah adat yang secara historis berada di bawah kekuasaan Raja Gong.
Hari ini, keturunan dari Raja Gong adalah masyarakat adat dari Suku Lamabelawa Kole. Guido tidak hanya pulang membawa ingatan tentang laut yang indah, tetapi juga warisan cerita legenda yang kaya dari masyarakat adat setempat.
Di balik pengalaman wisata edukasi ini, terdapat gerakan sosial yang menyentuh hati. English Class Mekko hadir sebagai ruang pendidikan bahasa Inggris gratis sekaligus aksi pelestarian lingkungan yang dikhususkan bagi anak-anak yatim piatu di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil Flores Timur.
Lewat perpaduan antara bahasa internasional, kepedulian ekologi, dan kearifan lokal, anak-anak Mekko tidak hanya belajar menyapa dunia, tetapi juga menjaga rumah mereka sendiri di lautan.
Komentar
Posting Komentar