Torehan di Bawah Pohon Mekko: Saat Bahasa Inggris dan Cinta Bumi Menembus Samudra



Penulis : Contributor English Class Mekko

Angin pesisir Adonara berembus pelan di Dusun Mekko, Kabupaten Flores Timur. Di bawah naungan rindang sebatang pohon, dengan beberapa bangku dan meja kayu sederhana, tawa anak-anak pecah di antara selingan goresan pensil warna. Sore itu, pukul tiga, mereka sedang asyik menggambar dan belajar bahasa Inggris. Bagi anak-anak Mekko, ruang kelas terbaik mereka tidak berdinding beton, melainkan beralaskan tanah dan beratapkan rindang alam.
Di tengah suasana belajar yang hangat itu, sebuah pesan singkat masuk di layar ponsel Founder English Class Mekko (ECM) yang juga menjabat sebagai Ketua K3 Budaya Adonara / Adonara C4:
"Hi, where are you?" "I'm here. Where are you?"
Pesan itu menandai akhir dari penantian sejak Jumat malam. Sembilan pelancong asal Los Angeles, Amerika Serikat, yang berlayar mengarungi perairan Indonesia dengan sebuah kapal Pinisi megah, akhirnya berlabuh di Mekko pada Sabtu sore, 19 September 2026. Mereka datang bukan sekadar untuk menikmati keindahan pasir putih Mekko, melainkan mencari tahu cikal bakal sebuah gerakan pendidikan swadaya dari pelosok Adonara.
Pendidikan Gratis di Tengah Realita
Rasa penasaran para tamu dari pesisir Pasifik itu langsung menyeruak begitu mereka duduk bersama sang pendiri kelas. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir hangat: kapan kelas ini dimulai, berapa kali dalam seminggu mengajar, hingga berapa banyak anak yang dibina.
Dengan senyum ramah meski sempat merasa bersalah karena sedikit terlambat tiba, pendiri kelas English Class Mekko menjelaskan realita di balik gerakan ini:
"Saya membuka kelas resmi pada 21 September 2026. Setiap Senin hingga Sabtu saya mengajar di SMA Negeri. Hari Minggu adalah waktu saya penuh untuk anak-anak di sini," tutur Faounder ECM tersebut. Dia enggan menyebut namanya. Baginya cerita ini patut didengar banyak orang.
Ia tak memungut biaya sepeser pun. Keputusan ini berakar kuat pada realita sosial ekonomi di tanah kelahirannya. Sekitar 60% warga Dusun III Mekko tergolong masyarakat kurang mampu, yang menyumbang sekitar 26–28% angka kemiskinan di Kabupaten Flores Timur.
Bagi sang pendiri, kemiskinan finansial tidak boleh menjadi penghalang bagi anak-anak untuk menguasai bahasa dunia.
"Saya mengajar gratis karena ingin ilmu bahasa Inggris dan karakter pelestarian alam tancap dalam di benak mereka sejak kecil. Anak-anak inilah yang kelak akan berdiri tegak menjelaskan keindahan Mekko, daerah ini, dan bangsa ini kepada dunia di masa depan," tegasnya.
Bahasa Internasional, Akar Konservasi
Selama hampir dua jam, percakapan mengalir tanpa sekat. Para tamu dari Los Angeles itu tak hanya terkesan oleh keberanian anak-anak melafalkan kata demi kata dalam bahasa Inggris, tetapi juga tersentuh oleh kurikulum berbasis lingkungan yang diterapkan ECM. Anak-anak Mekko dibentuk untuk mencintai laut dan daratan mereka sejak dini—menjadikan bahasa Inggris sebagai alat tutur, dan konservasi alam sebagai jiwanya.
Pertemuan sore itu ditutup dengan sebuah pertanyaan terbuka yang menyalakan harapan baru:
"Are you open to many volunteers coming to your school?" "Sure, bro!" jawab sang founder mantap.
"1000 Bakau Masih Kurang"
Saat matahari mulai meredup dan para tamu kembali ke kapal Pinisi mereka, jalinan komunikasi tetap berlanjut melalui pesan singkat. Pertemuan singkat di bawah pohon itu meninggalkan jejak mendalam. Ada kehangatan persahabatan lintas benua yang terbangun atas dasar rasa saling menghargai.
Dalam hati sang pendiri, tertanam sebuah filosofi hidup yang kokoh saat ia menyeberangi selat menuju pulau sebelah:
"Seribu teman masih kurang, dan seorang musuh sudah sangat banyak."
English Class Mekko telah membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas bukanlah penghalang untuk melahirkan gerakan berdampak global. Dari sebuah dusun kecil di Flores Timur, ketulusan seorang pendidik dan semangat anak-anak pesisir mampu memanggil dunia untuk datang, belajar, dan berjuang bersama menjaga bumi.

Pose Anak-anak ECM bersama Teman Mereka Asal Los Angeles Amerika

Pose Bersama Founder ECM dengan Teman - Teman dari Los Angeles Amerika

Saat Mereka Tiba Anak-anak ECM sedang Belajar di Bawah Pohon Waru depan Rumah Warga








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil K3 Budaya Adonara (Adonara C4 )

Awas! Area Restorasi Terumbu Karang Mekko

Acomodation Home stay and Rent Bike for Adonara C4 Volunteer / English Class Mekko Volunteer.